🐈 Allah Senantiasa Menolong Hamba Selama Ia Menolong Saudaranya
KEPEDULIANDALAM ISLAM. A. latar belakang. Islam merupakan agama yang memberikan perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara hubungan manusia dengan Tuhan, antara hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ
Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain karena kodratnya sebagai makhluk sosial. Untuk itu, dalam kesehariannya kita perlu menumbuhkan rasa saling peduli dan memiliki terhadap sesama, yang tentunya dalam hal agar terhindar dari sikap asosial, menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain juga dapat mendatangkan kebaikan dari Allah SWT. Rasulullah SAW pun mengajarkan kita untuk menjaga sifat baik satu ini. Nah, berikut beberapa keutamaan menolong orang lain menurut Menjadi manusia dengan sifat yang dicintai Allah SWTilustrasi menolong orang lain e Kainat WelfareSalah satu sifat Allah SWT yakni Maha Indah dan sangat mencintai segala keindahan. Begitu pula kepada umat-Nya yang menjaga diri dari sifat dan perbuatan buruk seperti bergosip, pelit, dan bermuka diterangkan Rasulullah SAW ketika ditanya Sahabat perihal siapa manusia yang paling dicintai Allah SWT, “Yaitu manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain. Sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapus kesusahan orang lain, atau melunasi utang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan.” HR. ThabraniSaling tolong-menolong dalam kebaikan tentu merupakan sikap baik yang perlu dijaga. Tidak hanya menjadi manusia yang dicintai Allah SWT, dengan menolong orang lain, kita pun jadi lebih memaknai arti Dimudahkan urusannya, baik di dunia maupun akhirat kelakIlustrasi membantu Pexels/Ketut SubiantoTempat memohon pertolongan hanyalah Allah SWT. Meski kamu sudah berdoa sepanjang waktu, namun kamu belum juga keluar dari kesulitan. Coba evaluasi diri kembali, barangkali sebelumnya kamu kurang membantu orang lain yang tengah kesulitan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” HR. MuslimUntuk itu, kalau ingin dimudahkan urusan di dunia dan akhirat, jangan ragu buat lebih ringan tangan, ya! Namun, hati-hati juga! Jangan sampai kamu jadi mudah dimanfaatkan!3. Mendapat kemurahan dan rahmat dari Allah SWTilustrasi orang bahagia PiacquadioKeutamaan menolong orang lain selanjutnya, yakni lebih mudah mendapat bantuan dari Allah SWT. Seperti diriwayatkan dalam hadis berikut “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang lain.” HR. Muslim, Abu Daud dan TirmidziAllah SWT memberi porsi sesuai dengan apa yang telah dilakukan umat-Nya sebelumnya. Seperti kisah sahabat Rasulullah SWT, Abdurrahman bin Auf, yang takut masuk surga paling akhir karena terlalu banyak harta. Ia pun mulai menghabiskan hartanya untuk menyokong keperluan perang Tabuk, membeli tanah pasar agar pedagang muslim berbisnis tanpa uang sewa, dan membantu menghidupi keluarga menjadi miskin, Abdurrahman bin Auf justru semakin kaya. Karena sebetulnya yang dilakukannya adalah sedang berinfak dan menolong orang lain di jalan Allah SWT. Baca Juga 5 Hadis agar Bersemangat Baca Al-Qur'an di Bulan Suci Ramadan 4. Mengeratkan kerukunan dengan orang lainilustrasi berkumpul bersama kerap menjumpai masyarakat yang saling membantu menyiapkan keperluan hajatan orang lain, gotong royong membersihkan lingkungan, dan merenovasi masjid. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya.” HR. Bukhari.Maksud dari hadis tersebut ialah sikap tolong-menolong yang dibangun dalam kebersamaan, akan mengeratkan kerukunan. Karena hal tersebut merupakan fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang Mendapat ampunan dan dinaikkan derajatnya di hari akhirilustrasi berdoa ProductionBerbuat baik yang didasari ketulusan tentu akan mendapat imbalan yang baik, begitu pula dengan menolong orang lain. Besaran ganjaran dari menolong orang lain pun telah diterangkan Rasulullah SAW dengan bersabda “Barang siapa menolong orang yang sangat membutuhkan, maka Allah mencatatnya sebanyak 73 ampunan. Satu ampunan terdapat kebaikan semua masalahnya, yang 72 menaikkan derajatnya pada hari kiamat.” HR. Bukhari dan Baihaqi.Menolong orang lain bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Tidak hanya kepada kerabat dekat, kamu juga bisa menjadi relawan korban bencana, berbagi nasi kotak sepulang kerja, dan melakukan sedekah sepatutnya kita sebagai umat muslim yang bermasyarakat untuk meneladani sifat Rasulullah SAW serta para Sahabat yang gemar menolong orang lain. Lakukanlah dalam kadar semampu kamu dan dilandasi harapan berkah dari Allah SWT, ya!Penulis Langgeng Irma Salugiasih Baca Juga 6 Makanan ini Ampuh Tingkatkan Imun Tubuh, Ada di Al-Qur'an dan Hadis
Barangispa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah taala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan meminta ampunan baginya sampai hari iamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.” “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR Muslim no 2699).
JIKA INGIN DITOLONG ALLAH TA’ALA MAKA TOLONGLAH SAUDARAMU. يسم الله الرحمن الرحيم Sudah menjadi harapan dan keinginan setiap manusia, khususnya muslim untuk selalu mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Bantuan mendapatkan kesembuhan dan kesehatan dikala seseorang sedang sakit. Bantuan mendapatkan rizki cukup diwaktu ia ditimpa kefakiran dan kemiskinan. Bantuan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dikala ia tidak tahu dan dalam kebodohan. Bantuan mendapatkan keamanan dan kenyamanan disaat ia dihinggapi rasa takut dan kekhawatiran, dan lain sebagainya. Namun mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah ta’ala itu tidak sesuai dengan kehendak manusia. Sebab Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan terwujudnya pertolongan-Nya itu dengan suatu syarat yakni orang tersebut juga selalu bersedia menolong saudaranya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil hadits berikut, Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim 2699, at-Turmudziy 1930, 1425, 2945, Abu Dawud 4946, Ibnu Majah 225 dan Ahmad II/ 252, 296, 500, 514. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [1] Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba tersebut”. [2] Berkata asy-Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bahwa Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong saudaranya dari kaum muslimin di dalam segala yang perkara yang mereka butuh pertolongan. Sehingga dalam perkara mendahulukan kedua sandal bagi saudaranya tersebut, mempersilahkannya untuk naik kendaraan dan mendekatkan permadaninya untuknya dan selainnya. Namun motivasi menolong saudaramu yang muslim itu terikat dengan perbuatan baik dan ketakwaaan. Hal ini karena firman Allah ta’ala Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa. QS al-Maidah/ 5 2. [3] Jadi pertolongan itu Allah ta’ala itu akan diberikan kepada setiap hamba yang ringan tangan mengulurkan bantuan kepada saudaranya yang muslim dalam perkara-perkara yang mengandung kebaikan dan ketakwaan. Faidah Hadits, 1. Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki sifat menolong, [QS Ghafir/ 40 51, Rum/ 30 47 dan selainnya] dan Allah ta’ala adalah Sebaik-baik penolong. Hadits di atas menjelaskan salah satu sifat Allah ta’ala adalah Penolong, yakni menolong para hamba-Nya yang berhak dan membutuhkan pertolongannya, baik di dunia, alam barzakh ataupun kelak pada hari kiamat. Ayat-ayat alqur’an banyak memaparkan sifat Allah ta’ala yang mulia ini di dalam beberapa tempat. فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَوْلَاكُمْ نِعْمَ اْلـمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصِيرُ Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah adalah Pelindungmu. Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong. [QS al-Anfal/ 8 40 dan yang semakna al-Hajj/ 22 78]. Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Dan Sebaik-baik penolong yaitu Penolong bagi kalian selama kalian menjadi wali-wali-Nya yang kalian hidup di atas keimanan dan ketakwaan”. [4] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَ يُثَبِّتْ أَقْدَامَكًمْ Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS Muhammad/ 47 7]. Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai sesembahannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rosulnya, jika kalian menolong Allah dengan cara menolong agama-Nya, nabi-Nya dan para wali-Nya niscaya Allah akan menolong kalian dan menjadikan kemenangan bagi kalian dan juga akan meneguhkan langkah-langkah kalian di setiap peperangan yang kalian menjumpai kaum musyrikin dan kafirin. Ini adalah janji dari Allah ta’ala yang telah Ia sempurnakan untuk para hamba-Nya yang beriman di dalam sejarah jihad di jalan Allah”. [5] Yakni jika kalian menolong Allah ta’ala yakni membela dan menegakkan agamanya dengan bentuk melaksanakan berbagai perintah-Nya, meninggalkan berbagai larangan-Nya dan membenarkan berbagai kabar dari-Nya maka Allah Jalla Dzikruhu akan membantu kalian dengan memberi kemenangan dan kejayaan serta akan meneguhkan langkah-langkah kalian. Melaksanakan berbagai perintah-Nya di antaranya adalah menolong saudaranya yang muslim ketika butuh bantuan darinya. 2. Yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Jalla wa Ala adalah setiap hamba yang suka menolong saudaranya. Yakni siapapun hamba muslim yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada saudaranya dalam kebaikan dan ketakwaan berupa bantuan makanan, pakaian, harta, ilmu, tenaga dan pengobatan untuknya. Atau menjaga dan membela kemuliaannya, memberi tausiyah dan semangat baginya, memberi biaya pendidikan bagi anak-anaknya, dan selainnya maka Allah Azza wa Jalla kelak akan membalas kebaikannya dengan bentuk memberi bantuan untuknya pada saat ia sangat membutuhkan bantuan dari-Nya. Atau Allah ta’ala akan membantunya kelak disaat ia butuh pertolongan dari-Nya di alam barzakh dari fitnah dan adzab kubur atau pada hari kiamat dari berbagai kesulitan dan adzab neraka. Apalagi jika hamba muslim tersebut memiliki sifat dan kebiasaan yaitu berusaha untuk memenuhi segala hajat kebutuhan saudaranya sebaik-baiknya tanpa diminta atau diperingatkan. Maka Allah ta’ala niscaya akan memenuhi segala kebutuhannya di dunia dan kehidupan sesudahnya. Dan janji Allah Azza wa Jalla adalah benar dan pasti akan dipenuhi bagi orang yang berhak mendapatkan janji-Nya. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, وَ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ “Dan barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah juga akan berusaha memenuhi kebutuhannya”. [HR al-Bukhoriy 2442, 6951, Muslim 2580, Abu Dawud 4893, at-Turmudziy 1426 dan Ahmad II/ 91. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [6] Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk memenuhi keperluan kaum muslimin dan melonggarkan kesedihan mereka merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penyebab di dalam terpenuhinya kebutuhan hamba tersebut, dilonggarkan kesedihan dan dilenyapkan kedukaannya”. Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yakni, sesungguhnya engkau jika berusaha memenuhi kebutuhan saudaramu dan membantunya di dalam memenuhi kebutuhannya tersebut maka sesungguhnya Allah ta’ala juga akan menolong dan membantumu di dalam kebutuhanmu sebagai suatu pembalasan yang cukup bagimu”. [7] Begitu pula, seorang muslim wajib menolong saudaranya ketika saudaranya itu dicela, dihujat, digunjing atau difitnah habis-habisan oleh orang lain. Dengan cara menegur para pencelanya, menghentikan kegiatan buruk tersebut, meluruskan celaan atau gunjing tersebut semampunya, mengajak untuk tabayyun kepada saudaranya yang dicela atau digunjing tersebut dan selainnya. Maka dari sebab sikap baik tersebut, kelak Allah ta’ala akan membela dan menolongnya di waktu dan tempat ia membutuhkan pertolongan-Nya. Dari Jabir dan Abu Thalhah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَءًا مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ خَذَلَهُ اللهُ تعالى فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ وَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ نَصَرَهُ اللهُ فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ “Tidaklah seseorang membiarkan seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah ta’ala akan membiarkannya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menolongnya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya”. [HR Abu Dawud 4884. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [8] Di dalam riwayat yang lain, dari Ibnu Ummi Abdi yaitu Ibnu Mas’ud berkata, مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَنَصَرَهُ جَزَاهُ اللهُ بِهَا خَيْرًا فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ جَزَاهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ شَرًّا “Barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin lalu ia menolongnya maka Allah akan memberikan balasan kebaikan untuknya didunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin, lalu ia tidak menolongnya maka Allah akan memberikan balasan keburukan untuknya di dunia dan akhirat”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad 734. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih isnadnya]. [9] Dari Anasradliyalllahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ اْلغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ “Barangsiapa menolong saudaranya yang sedang ghaib tidak berada di tempat maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat”. [HR al-Baihaqiy 7637, ad-Dainuriy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [10] 3. Anjuran untuk senantiasa memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari kaum fakir, miskin, anak yatim dan selainnya. Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih telah banyak menganjurkan umat Islam untuk selalu memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yakni kepada anak yatim, orang fakir dan miskin, para tawanan, para janda, orang-orang yang bepergian dan kehabisan bekal dan selainnya. Bahkan juga diperintahkan berbuat baik kepada binatang semisal kucing, anjing, ternak dan semua makhluk hidup yang memiliki hati. Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan kekerasan hatinya. Maka Beliau bersabda kepadanya, إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. [HR Ahmad II/ 263, 387 dan ath-Thabraniy di dalam Mukhtashor Makarim al-Akhlaq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [11] Dari Muhammad bin Wasi’ al-Azdiy bahwasanya Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu pernah menulis surat kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu, “Wahai saudaraku mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululluh Shallallahu bersabda ketika ada seseorang mengadu kepada Beliau akan kekerasan hatinya. Lalu beliau bersabda, أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ “Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu”. [HR al-Khara’ithiy di dalam Makarim al-Akhlaq dan Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [12] Dalil hadits di atas menerangkan faidah bahwa memberi makan orang miskin dan memperhatikan kebutuhan anak yatim dengan mengusap kepalanya, berlemah lembut kepada mereka, mencukupi makan dan pakaiannya serta menanggung pendidikannya akan menyebabkan kelembutan hati bagi pelakunya dan dipenuhi segala kebutuhannya. Bahkan jika ada seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dari memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya. Beliau mengangkat tangannya lalu mengangkat dan berisyarat dengan jari telunjuk dan tengahnya serta memisahkan keduanya. Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ “Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia kedudukannya seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. [HR Muslim 2983 dan Ahmad II/ 375. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [13] Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Makna لَهُأوْلِغَيْرِهِ adalah kerabatnya ataupun ajnabi orang lain. Sedangkan yang termasuk kerabat di sini, ialah ibu sang anak yatim, kakeknya, saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya. Wallahu a’lam.” [14] Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا “Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti dua jari ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya”. [HR al-Bukhoriy 5304, 6005, di dalam al-Adab al-Mufrad 133, 135, Abu Dawud 5150, at-Turmudziy 1918 dan Ahmad V/ 333. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [15] Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Terdapat dorongan di dalam memelihara anak yatim dan menjaga harta mereka. Yang demikian itu akan menyebabkan masuk ke dalam surga dan menemani para Nabi, para siddiqin, para syuhada dan kaum shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman yang menyertai”. [16] Dari Hudzaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِصَوْمِ يَوْمٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِقَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ “Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan berpuasa satu hari dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan ucapan Laa ilaaha illallah’ dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga”. [HR Abu Nu’aim dan Ahmad V/ 391. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hadits iini isnadnya shahih]. [17] Begitu pula Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk memberi makan kepada orang yang kelaparan dan setiap orang yang membutuhkan makanan. Dan Beliau menetapkan bahwa siapapun di antara umatnya ada yang bermalam dalam keadaan kenyang sedangkan ia tahu tetangganya dalam keadaan kelaparan maka ia bukanlah seorang mukmin. Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, فُكُّوا اْلعَانِيَ –يعنى اْلأَسِيْرَ- وَ أَطْعِمُوا اْلجَائِعَ وَ عُودُوا اْلـمَرِيْضَ “Bebaskan budak, berikan makan kepada orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”. [HR al-Bukhoriy 3046, 5373, 5649. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [18] Dari Hani bin Yazid radliyallahu anhu, bahwasanya ketika ia menjadi utusan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesuatu apakah yang dapat menetapkan ke dalam surga?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكَ بِحُسْنِ اْلكَلَامِ وَ بَذْلِ الطَّعَامِ “Wajib atasmu untuk baik dalam perkataan dan mendermakan makanan”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad 811 dan al-Hakim 69. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [19] Dari Shuhaib bin Sinan radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَ رَدَّ السَّلَامَ “Sebaik-baik kalian adalah yang suka memberi makan dan membalas ucapan salam”. [HR Ahmad VI/ 16 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [20] Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, Saya mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ “Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga yang di sebelahnya kelaparan”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad 112, al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [21] Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ “Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [22] Islam telah menjelaskan dengan gamblang akan kewajiban setiap umatnya. Di antaranya bahwa amal yang paling utama yang mesti dilakukan oleh setiap muslim adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati saudaranya yang mukmin. Berupa membayarkan hutangnya jika saudaranya itu tidak mampu untuk melunasinya, memberinya makanan meskipun hanya sepotong roti yang mengenyangkannya, memberikan pakaian untuk menutup auratnya dan menjaga tubuhnya dari hawa dingin, hembusan angin ataupun teriknya panas, memenuhi segala kebutuhannya dengan batas kemampuannya, mengurangi atau menghilangkan segala kesulitan yang menghimpitnya dan lain sebagainya. Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيْكَ اْلمـُؤْمِنِ سُرُوْرًا أَوْ تَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang mukmin, engkau membayarkan hutangnya atau engkau memberinya makan roti”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya di dalam Qodlo’ al-Hawa’ij dan ad-Dailamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Hasan]. [23] Di dalam satu riwayat dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, mengenyangkan rasa laparnya, memberi pakaian untuk auratnya dan memenuhi kebutuhannya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath]. [24] Dari Ibnu al-Munkadir radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مِنْ أَفْضَلِ اْلعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى اْلمـُؤْمِنِ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا تَقْضِي لَهُ حَاجَةً تُنَفِّسُ لَهُ كُرْبَةً “Sebahagian dari seutama-utama amal adalah memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan melonggarkan satu kesusahan darinya”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [25] Oleh sebab itu amalan yang bersifat membantu atau menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan semisal para janda dan kaum miskin diserupakan dengan berjihad di jalan Allah ta’ala, orang yang qiyamul lail tanpa henti atau seperti orang yang sedang berpuasa tanpa berbuka. Janda tersebut apakah karena ditinggal mati oleh suaminya lantaran sakit, kecelakaan, syahid dalam peperangan dan sebagainya. Atau janda karena ditinggal suaminya tanpa sebab atau janda diceraikan suaminya tanpa alasan yang syar’iy ataupun tidak, maka ia berhak mendapatkan pertolongan seukuran dengan kebutuhannya. Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَ اْلمـِسْكِيْنِ كَالمـُجَاهِدِ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ كَاْلقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَ كَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ “Orang yang berusaha menanggung para janda dan orang miskin itu sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang qiyam menegakkan sholat malam tanpa istirahat dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka”. [HR Muslim 2982, al-Bukhoriy 5353, 6006, 6007, di dalam al-Adab al-Mufrad 131, at-Turmudziy 1969, Ibnu Majah 2140 dan Ahmad II/ 361. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [26] Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk menanggung para janda dan anak yatim, menafkahi mereka dan tegak di dalam membantu urusan-urusan mereka merupakan bentuk jihad di jalan Allah”. [27] 4. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini merupakan petunjuk bagi umatnya untuk selalu bersikap baik dan perhatian kepada saudara-saudaranya dalam berbagai hal. Sebab petunjuk dan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk, membawa kepada berbagai kebaikan dan kebenaran, menghindarkan dari berbagai keburukan dan kebatilan dan menuntun kepada jalan yang lurus serta surga yang penuh dengan kenikmatan. Islam adalah agama yang sangat sempurna yang tidak lagi butuh kepada kesempurnaan, sebab tidak ada sesuatu yang dapat membawa dan mendekatkan pemeluknya kepada surga atau menjauhkan dan menghindarkan pemeluknya dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada mereka. Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita wafat, dan tiada seekor burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkannya kepada kami sebagai suatu ilmu darinya. Berkata Abu Dzarr, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ “Tidaklah tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Ahmad V/ 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy hadits ini sanadnya shahih]. [28] Dari Salman al-Farisiy radliyallahu anhu berkata, Pernah ditanyakan kepadanya, قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه و سلم كُلَّ شَيْءٍ حَتىَّ اْلخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ “Sesungguhnya Nabi kalian Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai diajarkan pula adab buang air besar”. Ia berkata, maka Salman radliyallahu anhu menjawab, ”Ya, benar”. [HR Muslim 262, at-Turmudziy 16, Abu Dawud 7 dan Ibnu Majah 316. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. [29] Meskipun pertanyaan kaum musyrikin kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu itu bersifat ejekan dan cemoohan, namun para shahabat, khususnya Salman membenarkannya bahwasanya Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatu kepada mereka. Berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lain sebagainya bahkan sampai adab buang air besar sebagai bentuk kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan Islam yang membimbing dan menuntun para pemeluknya kepada kelayakan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat kelak. Namun anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa Islam agama mereka itu adalah agama yang sangat lengkap dan sempurna yang paling pantas untuk dijadikan pedoman hidup di dunia dan bimbingan menuju akhirat. Maka sudah sepantasnya kita sebagai umat Islam yaitu umatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk selalu membantu saudara-saudara kita ketika ditimpa dan diterpa berbagai kesulitan, kesengsaraan, kedukaan, cobaan dan sejenisnya yang menimpa mereka seukuran dengan kemampuan dan kesanggupan kita masing-masing. 5. Alqur’an yang mulia telah menetapkan bagi setiap muslim untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلبِرِّ وَ التَّقْوَى Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa. [QS al-Maidah/ 5 2]. Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong menolong melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran yaitu ketakwaan. Dan juga telah melarang mereka dari bantu membantu dalam kebatilan dan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan”. [30] Jadi tolong menolong itu hanya dalam perbuatan baik dan ketakwaan. Perbuatan baik itu setiap amalan yang disukai dan diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan diperintahkan atau dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka siapapun di antara muslim ada yang butuh bantuan, maka hendaknya saudaranya segera membantunya tanpa menundanya, menolongnya tanpa pamrih kepadanya dan membantunya tanpa perhitungan kepadanya. 6. Jika ingin selalu mendapatkan pertolongan Allah ta’ala maka biasakanlah menolong orang lain dalam kebaikan dan dengan penuh keikhlasan. وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَّ يَتِيمًا وَّ أَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَّ لَا شُكُورًا Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridloan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih. [QS al-Insan/ 76 8-9]. Mereka memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan dari orang miskin, anak yatim dan tawanan. Makanan tersebut adalah makanan yang masih mereka sukai bukan makanan yang sudah basi atau tidak layak untuk dimakan dan dikonsumsi. Adapun tujuan mereka adalah untuk meraih dan mendapatkan keridloan Allah ta’ala semata, bukan untuk mengharap balasan dari orang yang mereka beri makan dan bukan pula ucapan terima kasih. 7. Allah Azza wa Jalla pasti akan menunaikan janji-Nya karena Dia tidak pernah ingkar janji. [QS Rum/ 30 6, az-Zumar/ 39 20 dan selainnya]. Jika seorang hamba muslim sudah menunaikan kewajibannya dengan membantu saudaranya yang muslim dengan penuh kesungguhan dan seukuran kemampuannya maka Allah ta’ala akan memenuhi janjinya dengan bersiap-siap untuk membantu hamba-Nya tersebut dikala membutuhkan bantuan-Nya. Dan ingatlah Allah ta’ala tidak pernah ingkar janji. Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, para shahabatku dan kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam bish showab. [1] Mukhtashor Shahih Muslim 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy 1151, 1574, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud 4137, Shahih Sunan Ibni Majah 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 6577 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 67, 899. [2] Bahjah an-Nazhirin I/ 333. [3] Syar-h al-Arba’in an-Nawawiyah halaman 391. [4] Aysar at-Tafasir III/ 502. [5] Aysar at-Tafasir V/ 74. [6] Mukhtashor Shahih Muslim 1830, Shahih Sunan Abu Dawud 4091, Shahih Sunan at-Turmudziy 1152, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 504, Irwa’ al-Ghalil 2450 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 6707. [7] Syar-h Riyadl ash-Shalihin II/ 99. [8]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5690 dan Misykah al-Mashobih 4983. [9]Shahih al-Adab al-Mufrad 563. [10]Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir 6547 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1217. [11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 854 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 1410. [12] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah II/ 535 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 250. [13] Mukhtashor Shahih Muslim 1766, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 962 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 4448. [14]Bahjatun Nazhirin I/ 350. [15] Shahih al-Adab al-Mufrad 100, 101, Shahih Sunan Abu Dawud 4289, Shahih Sunan at-Turmudziy 1564, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 800 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 1475. [16]Bahjatun Nazhirin I/ 350. [17] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1645. [18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 4229. [19] Shahih al-Adab al-Mufrad 623, Irwa’ al-Ghalil 2615, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1939 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 4049. [20] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 3318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 948. [21] Shahih al-Adab al-Mufrad 82, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 149, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5382 dan Misykah al-Mashobih 4991. [22] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah I/ 230 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5505. [23] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1494. [24] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah III/ 482. [25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5897 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2291. [26] Mukhtashor Shahih Muslim 1767, Shahih al-Adab al-Mufrad 98, Shahih Sunan at-Turmudziy 1604, Shahih Sunan Ibnu Majah 1740, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2881, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 3680 dan Misykah al-Mashobih 4951. [27] Bahjah an-Nazhirin I/ 351. [28] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1803. [29] Mukhtashor Shahih Muslim 116, Shahih Sunan at-Turmudziy 15, Shahih Sunan Abi Dawud 5 dan Shahih Sunan Ibni Majah 255. [30] Tafsir al-Qur’an al-Azhim II/ 10 dan Bahjah an-Nazhirin I/ 261.
Allahsenantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Setiap gerakan pertolongan merupakan nilai pahala ” Siapa yang menolong saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi setiap langkah yang dilakukannya ” (HR. Thabrani ). yang sebenarnya ia mampu untuk menolong Di antara jawāmi’ulkalim – yakni ucapan Nabi yang ringkas namun sarat makna- adalah sabda beliau ṣallallāhu alaihi wa sallam,اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” HR. MuslimHadits ini adalah salah satu motivasi bagi kita untuk memberi pertolongan kepada sesama muslim. Mari simak di antara penjelasan para ulama tentang hadis yang agung Abdulmuhsin al-Abbad al-Badr hafiẓahullāh menjelaskan,“Di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk memberikan pertolongan kepada saudara sesama muslim. Setiap pertolongan yang diberikan kepada saudaranya, niscaya dia akan mendapat balasan berupa pertolongan dari Allah. Kalimat dalam hadis ini adalah bagian dari jawāmi’ulkalim. “ Fathu al-Qawiyyi al-MatīnSyekh Shalih bin Abdul’aziz Alu Syekh hafiẓahullāh menjelasakan,“Hadis ini memberikan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk memberikan pertolongan kepada saudaranya. Tatkala dia menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya Jika Engkau membantu kebutuhan saudaramu, niscaya Allah akan memberikan bantuan kepadamu. Ini adalah keutamaan yang agung dan balasan yang sangat besar bagi hamba.” Syarh al-Arba’īn al-NawawiyyahSyekh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafiẓahullāh menjelaskan bahwa makna hadis ini bersifat umum. Jika Engkau memberi pertolongan kepada saudaramu dengan pertolongan apapun bentuknya yang dia butuhkan, maka sungguh Allah akan senantiasa memberi pertolongan kepadamu. Demikianlah, karena balasan akan sesuai dengan perbuatan. Jika Engkau ingin Allah menolongmu, maka hendaknya Engkau menolong saudaramu sesuai kadar kemampuan yang Engkau mampu berikan kepadanya, baik itu dengan harta, kedudukan, ataupun bantuan yang lainnya. Al-Minhatu al-Rabbaniyyah fī Syarhi al-Arba’īn al-NawawiyyahSyekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin raḥimahullāh memberi catatan penting tentang hadis ini. Beliau menjelaskan bahwa hadis ini merupakan motivasi untuk memberi pertolongan kepada sesama muslim. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa hal ini terbatas untuk perkara kebaikan dan takwa. Karena Allah taala berfirman,وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.“ QS. Al-Mā’idah 2Adapun jika memberi pertolongan dalam perbuatan dosa, maka hukumnya haram. Karena Allah berfirman, وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. “ QS. Al-Mā’idah 2Hadis ini menunjukkan bahwa balasan akan sesuai dengan perbuatan. Bahkan balasan dari Allah lebih baik dari amal perbuatan hamba. Jika Engkau menolong saudaramu, maka Allah akan memberi pertolongan kepadamu. Dan jelas bahwa pertolongan yang datang dari Allah adalah balasan yang lebih besar dari amal hamba itu sendiri. Syarh al-Arba’īn al-NawawiyyahDemikian pembahasan ini. Semoga bermanfaat, dapat menambah ilmu bagi kita dan menjadi penyemangat untuk berbuat baik dan memberikan pertolongan kepada sesama Juga***Penyusun dr. Adika Mianoki, Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku "Jawaban 3 Pertanyaan Kubur"0.17) (Yoh 12:12) (sh: Sang Mesias, Raja Israel (Selasa, 26 Februari 2008)) Sang Mesias, Raja Israel Nas ini membuktikan bahwa kebangkitan Lazarus mengandung makna lebih dalam dari sekadar mukjizat. \'Tanda\' kebangkitan Lazarus menyampaikan berita bahwa sang Raja yang telah dinubuatkan Perjanjian Lama, kini telah datang (ayat 19), bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Connection timed out Error code 522 2023-06-13 133134 UTC Host Error What happened? The initial connection between Cloudflare's network and the origin web server timed out. As a result, the web page can not be displayed. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not completing requests. An Error 522 means that the request was able to connect to your web server, but that the request didn't finish. The most likely cause is that something on your server is hogging resources. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d6ab1147b480e14 • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Гሗта υቢитուφա տኡб
ኩοтр лаπюձուջυт лечωψ свакрቄрοрс
Аዱяሺещ ቹочеሕաሱ ዡቀе
ሳсващεչι εፗαмաзፀпе уծудխки
ሌгեраμιг υчዩчև
ጩцуπущէш тваኇинի
Шεκαкጲξէժ ጎоኯоπθወጼме аж ιц
Վօջ ፁоዩωдрох
Л иψυኒէт
Цегխ сυհጰ ጬпፕкакеհ ታва
Оሡозвը а
Друктερиբ եմ
Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)🌍 🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى 📗 Kitābul Jāmi’ Bulughul Maram 📝 AlHāfizh Ibnu Hajar ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ~~~~~~~ بسم الله الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Kita masuk pada bagian terakhir bagian yang ke-4 dari pembahasan sebelumnya, dimana Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam bersabda وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ “Allāh menolong hamba, jika seorang hamba menolong saudaranya.” Hadits ini sebenarnya kesimpulan dari pada lafadz-lafadz sebelumnya yang menjelaskan bahwasanya ◆ Segala bentuk pertolongan seorang hamba kepada saudaranya, maka akan dibalas juga dengan pertolongan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. ◆ Bahkan dibalas dengan lebih dari pada apa yang dia bantu kepada saudaranya. Lafazh hadits yang terakhir ini umum, mencakup ⑴ BANTUAN APAPUN Mungkin seseorang membantu saudaranya dengan kata-katanya, tenaganya, hartanya, hatinya, do’anya. Jika dengan kata-kata yang indah bisa membantu saudaranya, maka ini dianggap bantuan. Pokoknya bantuan dalam bentuk apapun, termasuk dalam hadits ini. Kemudian juga umum mencakup, ⑵ APA YANG DIBANTU ✓ Kebutuhan saudaranya apapun, apakah saudaranya membutuhkan bantuan yang besar atau bantuan yang kecil. ✓ Bantuan dalam model apapun, diberikan dalam kebutuhan apapun. Maka Allāh akan membantu hambaNya yang membantu saudaranya. Oleh karenanya dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam menyebutkan لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد شهرا “Saya menemani saudara saya dalam rangka memenuhi kebutuhannya lebih saya sukai dari pada i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” HR Ath Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabīr, no. 13646, dihasankan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahādīts Ash Shahīhah no. 906. Karena i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan, faidahnya berkaitan dengan seorang hamba itu sendiri. Tetapi menemani saudara, ikut berjalan bersamanya, ini berkaitan dengan membantu saudara. Dan amalan yang muta’addi yang faidahnya sampai kepada orang lain, lebih disukai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari pada amalan yang faidahnya terbatas pada pelakunya sendiri. Dan disini isyarat dari Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ “Allāh akan membantu seorang hamba selama hamba membantu saudaranya.” Perhatikan ! Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam, mengatakan “Selama hamba membantu saudaranya”. Artinya apa ? Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam tidak mengatakan “selama dia membantu orang lain”, tetapi mengatakan “selama dia membantu saudaranya”. ⇒ Artinya, orang lain yang dia bantu tersebut adalah saudaranya. Dan konsekuensi dari persaudaraan yaitu kita membantu. Namanya saudara, maka kita bantu. Kalau kita tidak bantu apa fungsinya dikatakan sebagai saudara sesama Muslim? Kemudian Rasūlullāh shallallāhu alayhi wasallam juga mengatakan وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ “Dan Allāh akan membantu sang hamba.” Disini Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam tidak mengatakan وَاللَّهُ يُعِيْنِهُ “Akan membantunya.” ⇒ Jadi, orang yang membantu saudaranya dikatakan sebagai hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ini sebenarnya pujian secara khusus. Oleh karenanya dalam sebagian ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji Rasūlullāh shallallāhu alayhi wa sallam dengan menyebut Nabi sebagai hambaNya. Seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ “Maha Suci Allāh yang telah memperjalankan hambaNya dari masjidil Harām ke masjidil Aqsha di malam hari yang diberkahi sekelilingnya”. QS Al-Isrā 1 ⇒ Disini Allāh mengatakan hambaNya. Oleh karenanya dalam hadits ini, orang yang membantu saudaranya adalah benar-benar hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Berarti dia beribadah dan yakin kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla bahwasanya Allāh akan membantu dia. Disini Allāh memberi sifat ubudiyyah kepada orang yang membantu saudaranya. Oleh karenanya para ikhwan dan akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Kita ada waktu untuk beribadah, untuk menenangkan hati kita, ada waktu untuk membantu kerabat kita, ada waktu untuk membantu orang tua kita, ada waktu untuk mengurus anak dan istri kita… Ada waktu juga kita sisihkan untuk membantu saudara-saudara kita. Meskipun tidak ada hubungan kerabat dengan kita, meskipun dia tidak pernah membantu kita, tetapi kita membantunya karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ingat ! Barang siapa yang membantu saudaranya, maka Allāh akan membantunya. Dan jika Allāh sudah membantu seorang hamba, maka pasti akan dimudahkan, karena “biyadihi al-amru kulluhu”, ditangan Allāh segala perkara/urusan. Dan jika Allāh menghendaki sesuatu, tinggal mengatakan “kun fayakun”, jadi maka jadilah. والله تعالى أعلم بالصواب السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ______________________________
7 Hidup tanpa Allah ibarat sebuah pensil tumpul, ia tidak memiliki titik. 8. Bila hijrahmu karena Allah, kamu akan terus melangkah walaupun sudah lelah. 9. Bila ingin mendapatkan sesuatu, belajarlah dengan memberi sesuatu. 10. Allah akan menolong seorang hamba, selama hambanya senantiasa menolong saudaranya. Kata-kata Bijak Islami
MEMBANTU KESULITAN SESAMA MUSLIM DAN MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGAOleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه اللهعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُDari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan dalam masalah hutang, maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya dari kesulitan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allâh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh masjid untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya dalam meraih derajat yang tinggi-red, maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”TAKHRIJ HADITS Hadits ini shahih. Diriwayatkan olehMuslim no. 2699.Ahmad II/252, 325.Abu Dâwud no. 3643.Tirmidzi no. 1425, 2646, 2945.Ibnu Mâjah no. 225.Ad-Dârimi I/99.Ibnu Hibbân no. 78- Mawâriduzh Zham-ân.Ath-Thayâlisi no. 2439.Al-Hâkim I/88-89.Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 127.Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Fadhlihi I/63, no. 44.Dalam riwayat lain, Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain bahkan ia wajib menolong dan membelanya[1]. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi aib orang Muslim, maka Allâh menutupi aibnya pada hari Kiamat.[2]SYARAH HADITS 1. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang maknanya, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.” Karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Hadits-hadits tentang masalah ini banyak sekali, misalnya sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,وَإِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allâh menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang[3]Al–Kurbah kesempitan ialah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan at-tanfîs maksudnya berupaya meringankan beban tersebut dari penderita. Sedangkan at-tafrîj upaya melepaskan dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari penderita sehingga kesedihan dan kesusahannya sirna. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain ialah Allâh akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allâh akan menghilangkan kesulitannya.[4]Seorang Muslim hendaknya berupaya untuk membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan Muslim hendaknya berupaya menghilangkan kesulitan atau penderitaan Muslim lainnya. Bila seorang Muslim membantu Muslim lainnya dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terbaik yaitu dilepaskan dari kesulitan terbesar dan terberat yaitu kesulitan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, seorang Muslim mestinya tidak bosan membantu sesama Muslim. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan menghilangkan kesulitan kita pada hari Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , yang artinya “Dari salah satu kesusahan hari Kiamat.”Kenapa Beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak bersabda, “Dari salah satu kesempitan dunia dan akhirat,” seperti yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam sabdakan dalam balasan memudahkan urusan dan menutup aib ? Ada yang mengatakan bahwa kurab kesulitan-kesulitan yang merupakan kesulitan luar biasa itu tidak menimpa semua manusia di dunia, berbeda dengan kesulitan dan aib yang perlu ditutup, hampir tidak ada seorangpun yang luput. Ada lagi yang mengatakan bahwa kesulitan dunia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesulitan akhirat. Karenanya, Allâh Azza wa Jalla menyimpan pahala orang yang meringankan beban orang lain ini untuk meringankan kesulitannya pada hari Kiamat.[5] Ini diperkuat dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam …يَـجْمَعُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ فِـيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ ، فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي ، وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ مِنْهُمْ ، فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَالاَ يُطِيْقُوْنَ ، وَمَالاَ يَحْتَمِلُوْنَ. فَيَقُوْلُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ أَلاَتَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيْهِ ؟ أَلاَتَرَوْنَ مَاقَدْ بَلَغَكُمْ ؟ أَلاَتَنْظُرُوْنَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ ؟…“…Allah mengumpulkan manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir pada satu tempat kemudian penyeru memperdengarkan suara kepada mereka, penglihatan[6] dapat meliputi mereka, matahari mendekat ke mereka, dan manusia menanggung kesedihan dan kesempitan yang tidak mampu lagi mereka tahan dan tanggung. Sebagian manusia berkata kepada sebagian lainnya, Tidakkah kalian lihat apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian tidak melihat orang yang bisa meminta syafa’at untuk kalian kepada Rabb kalian…’” dan seterusnya.[7]Dari Aisyah Radhiyallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda,تُحْشَرُوْنَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا. قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ ؟ قَالَ اَلْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكَKalian akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan telanjang kaki, telanjang tidak berpakaian dan tidak berkhitan.” Aisyah berkata, “Wahai Rasûlullâh! Orang laki-laki dan perempuan akan saling melihat aurat yang lain?” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Perkaranya lebih dahsyat daripada apa yang mereka inginkan.”[8]Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “ Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit menghadap Rabb seluruh alam.” Al-Muthaffifiin/836, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,يَقُوْمُ أَحَدُهُمْ فِـي رَشْحِهِ إِلَـى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِSalah seorang dari mereka berdiri sementara keringatnya sampai separoh kedua telinganya.[9]Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِـي الْأَرْضِ سَبْعِيْنَ ذِرَاعًا ، وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْPada hari Kiamat, manusia berkeringat hingga keringat mereka mengalir di bumi sampai tujuh puluh hasta dan mengalir hingga sampai di telinga merekaDalam lafazh Muslim,إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِيْنَ بَاعًا ، وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ ، أَوْ إِلَى آذَانِهِمْSesungguhnya keringat manusia pada hari Kiamat kelak akan mengalir di bumi sampai tujuh puluh depa atau hasta dan dengan ketinggian mencapai mulut atau telinga mereka.[10]Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أُدْنِيَتِ الشَّمْسُ مِنَ الْعِبَادِ حَتَّى تَكُوْنَ قِيْدَ مِيْلٍ أَوِ اثْنَيْنِ ، فَتَصْهَرُهُمُ الشَّمْسُ ، فَيَكُوْنُوْنَ فِـي الْعَرَقِ بِقَدْرِ أَعْمَالِهِمْ ؛ فَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَـى عَقِبَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى حِقْوَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ hari Kiamat telah tiba, matahari didekatkan kepada hamba-hamba hingga sebatas satu atau dua mil. Kemudian panas matahari membuat mereka berkeringat lalu mereka terendam dalam keringat sesuai dengan perbuatan mereka. Diantara mereka ada yang terendam hingga kedua tumitnya, ada yang terendam hingga kedua lutut, ada yang terendam hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang terendam sampai ke mulutnya hingga ia tidak bisa bicara.[11]3. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , yang maknanya, “Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allâh Azza wa Jalla memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.”Ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat ada kesulitan. Bahkan Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hari kiamat sebagai hari yang sulit bagi orang-orang kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا… Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir. [al-Furqân/2526]Memberi kemudahan kepada yang kesulitan dalam utang ganjarannya besar. Ini dapat dilakukan dengan dua cara Pertama, memberikan tempo dan kelonggaran waktu sampai ia berkecukupan dan mampu membayar utang. Ini hukumnya wajib, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan jika orang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih bagimu, jika kamu mengetahui.” [al-Baqarah/2280]Kedua, dengan membebaskan hutangnya jika ia sudah tidak mampu lagi membayar perbuatan ini memiliki keutamaan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَـجَاوَزُوْا عَنْهُ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا ، فَتَجَاوَزَ اللهُ عَنْهُDahulu ada seorang pedagang yang selalu memberikan pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang itu kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, Bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan Allâh memaafkan kita dari dosa-dosa,’ maka Allâh pun memaafkannya.[12]Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُـنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ؛ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُSiapa ingin diselamatkan oleh Allâh dari kesulitan-kesulitan hari Kiamat, hendaklah ia meringankan orang yang kesulitan hutang atau membebaskan hutangnya.[13]Dari Abu Yasar Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ ، أَظَلَّهُ اللهُ فِـيْ ظِلِّهِBarangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau menghapus hutangnya, maka Allâh akan menaunginya dalam naungan-Nya[14]4. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , yang artinya, “Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim maka Allâh Azza wa Jalla menutupnya di dunia dan akhirat.”Banyak nash-nash yang semakna dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini. Diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf, ia berkata, “Aku pernah berjumpa dengan kaum yang tidak memiliki aib kemudian mereka menyebutkan aib-aib orang lain, akhirnya manusia menyebut aib-aib kaum ini. Aku juga pernah bertemu kaum yang mempunyai sejumlah aib namun mereka menjaga aib orang lain, akhirnya aib-aib mereka dilupakan.[15]Perkataan di atas diperkuat oleh hadits Abu Burdah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَـمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَـانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوْا الْـمُسْلِمِيْنَ ، وَلَا تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ ؛ فَإنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ Uعَوْرَتَهُ ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِـيْ بَيْتِهِWahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, tetapi iman tidak masuk ke hatinya, jangan kalian menggunjing kaum Muslimin dan jangan mencari aib-aib mereka ! Karena barangsiapa mencari aib-aib mereka maka Allâh akan mencari-cari aibnya dan barangsiapa aibnya dicari-cari oleh Allâh maka Allâh akan mempermalukannya meskipun ia berada di rumah.[16]Terkait dengan perbuatan maksiat, manusia terbagi dalam dua kelompok Pertama, orang baik yang kebaikan dan ketaatannya sudah diketahui orang banyak. Dia tidak dikenal sebagai pelaku maksiat. Orang seperti ini, jika melakukan kesalahan atau khilaf, maka kekeliruannya tidak boleh dibongkar dan tidak boleh diperbincangkan karena itu termasuk ghibah menggunjing yang diharamkan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [An-Nûr/2419]Maksud ayat ini ialah menyebarkan perbuatan keji orang mukmin yang menyembunyikan kesalahannya atau menyebarkan berita keji yang dituduhkan kepada kaum Muslimin padahal mereka tidak melakukannya sama sekali, seperti kisah dusta yang menimpa Aisyah Radhiyallahu anha .Sebagai orang-orang shalih mengingatkan para pelaku amar ma’ruf nahi mungkar agar merahasiakan para pelaku maksiat. Begitu juga apabila ada yang datang hendak bertaubat, menyesal dan mengaku telah berbuat maksiat berat namun ia tidak bisa menjelaskannya dengan rinci, maka orang seperti ini, tidak perlu diminta memberi penjelasan secara rinci dan dia diminta menutup aib dirinya, seperti yang diperintahkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Ma’iz dan wanita al-Ghamidiah yang telah mengaku berzina. Dan sebagaimana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak minta penjelasan secara rinci kepada orang yang mengatakan, “Aku telah berbuat maksiat maka jatuhkan hukuman kepadaku.”Anjuran menutup aib seorang Muslim yang berbuat kesalahan tidak berarti membiarkan kesalahannya. Bagi yang mengetahuinya tetap memiliki kewajiban untuk mengingkari kesalahan tersebut dan wajib untuk menutup karena itu, setiap Muslim dan Muslimah wajib menutup dirinya apabila dia salah, segera bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menceritakannya kepada orang orang yang sudah dikenal sebagai pelaku maksiat dan dia melakukannya terang-terangan, tidak perduli dengan perbuatan maksiatnya dan komentar miring masyarakat terhadap dirinya. Orang seperti ini, tidak apa dibuka aibnya, seperti yang ditegaskan oleh al-Hasan al-Bashri t dan yang lainnya. Bahkan orang seperti ini harus diselidiki keadaannya untuk dijatuhi hudûd hukuman had. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا ، فَإنِ اعْتَرَفَتْ ؛ فَارْجُمْهَـاHai Unais! Pergilah ke istri fulan ini. Jika ia mengaku berzina, maka rajamlah ia ! [17]Orang seperti itu tidak boleh dibela jika tertangkap kendati beritanya belum sampai ke penguasa Ia harus dibiarkan hingga mendapatkan hukuman agar berhenti dari kejahatannya dan membuat jera yang Mâlik rahimahullah berkata, “Orang yang tidak dikenal suka menyakiti orang lain lalu menyakiti karena kesalahan maka orang seperti ini tidak apa-apa dibela selagi informasinya belum terdengar penguasa. Sedangkan yang terkenal suka berbuat jahat atau kerusakan, maka aku tidak senang kalau ia dibela siapa pun. Orang ini harus dibiarkan hingga hukuman dijatuhkan kepadanya.” Perkatan ini dikisahkan oleh Ibnul Mundzir dan yang juga pelaku bid’ah yang terus menerus dalam perbuatan bid’ahnya dan mengajak orang kepada bid’ahnya maka kita boleh menjelaskan kepada umat Islam tentang orang itu. Bahkan wajib bagi penguasa dan Ulama untuk menjelaskan kesalahannya dan bid’ahnya agar umat tidak tersesat dan hal ini sebagai penjagaan terhadap agama Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam, “Allah menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.“Dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma disebutkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda …وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللَّـهُ فِـيْ حَاجَتِهِ“…Dan barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allâh senantiasa menolong kebutuhannya.”Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini menganjurkan agar umat Islam saling menolong dalam kebaikan dan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan bantuan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allâh, sungguh, Allâh sangat berat siksa-Nya.” [al-Mâidah/52]Tolong menolong telah dilaksanakan dalam kehidupan para salafush shalih. Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu sering mendatangi para janda dan mengambilkan air untuk mereka pada malam hari. Pada suatu malam, Umar bin al-Khaththab dilihat oleh Thalhah Radhiyallahu anhu masuk ke rumah seorang wanita kemudian Thalhah Radhiyallahu anhu masuk ke rumah wanita itu pada siang harinya, ternyata wanita itu wanita tua, buta, dan lumpuh. Thalhah Radhiyallahu anhu bertanya, “Apa yang diperbuat laki-laki tadi malam terhadapmu?” Wanita itu menjawab, “Sudah lama orang itu datang kepadaku dengan membawa sesuatu yang bermanfaat bagiku dan mengeluarkanku dari kesulitan.” Thalhah Radhiyallahu anhu berkata, “Semoga ibumu selamat –kalimat nada heran-, hai Thalhah, kenapa engkau menyelidiki aurat-aurat Umar ?”[18]. Maksudnya, kenapa aku tidak mengikuti jejak Umar Radhiyallahu anhu dalam kebaikan. Wallaahu A’ rahimahullah berkata, “Aku pernah menemani Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma diperjalanan untuk melayaninya, namun justru ia yang melayaniku.”[19]Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Kami bersama Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam di perjalanan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Di hari yang panas kami berhenti di suatu tempat. Orang yang paling terlindung dari panas adalah pemilik pakaian dan ada di antara kami ada yang berlindung diri dari terik matahari dengan tangannya. Orang-orang yang berpuasa pun jatuh, sedang orang-orang yang tidak berpuasa tetap berdiri. Mereka memasang kemah dan memberi minum kepada para pengendara kemudian Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari ini, orang-orang yang tidak berpuasa pergi dengan membawa pahala.”[20]6. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya jalan ke surga.”Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Jadi, ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla .[21] Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَـيْرًا يُفَقِـّهْهُ فِـي الدِّيْنِ، وَإِنَّـمَـا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِـيَ أَمْرُ اللهِBarangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allâh, Dia akan menjadikannya faham tentang agama. Sesung-guhnya aku hanyalah yang membagikan dan Allâh-lah yang memberi. Dan ummat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, mereka tidak bisa dicelakai oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya keputusan Allâh hari Kiamat.[22]Ilmu ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Yang bermanfaat seperti yang dijelaskan oleh para UlamaSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah wafat th. 728 H rahimahullah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam . Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian dan ilmu perdagangan.”[23]Imam Ibnu Rajab wafat th. 795 H rahimahullaht mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat membimbing kepada dua hal. Pertama, mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan segala yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Ilmu ini menyebabkan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap dan tawakkal kepada Allâh serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan. Kedua, mengetahui segala yang diridhai dan dicintai Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan fisik dan bathin serta ucapan. Ilmu ini menuntut orang yang mengetahuinya agar bergegas melakukan apa yang dicintai dan diridhai Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan dua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allâh Azza wa Jalla , jiwa merasa cukup dan puas dengan sesuatu yang halal meski sedikit dan merasa kenyang dengannya. Ini menjadikannya qana’ah dan zuhud terhadap dunia.”[24]Ibnu Rajab wafat th. 795 H rahimahullah juga berkata, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir al-Qur-ân, penjelasan makna hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tâbi’în, Tâbi’ut Tâbi’în dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka…”[25]Imam al-Auza’i wafat th. 157 H rahimahullah berkata, “Ilmu itu apa yang dibawa dari para Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam , adapun yang datang dari selain mereka bukan ilmu.”[26]Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lâmul Muwaqqi’în 2/149 mengatakan, “Sebagian ahli ilmu mengatakan, Ilmu adalah firman Allâh, sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam dan perkataan para Shahabat. Semuanya tidak bertentangan…’”Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i wafat th. 204 H rahimahullah mengatakan Seluruh ilmu selain al-Qur-ân hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya Qaalaa, haddatsanaa telah menyampaikan hadits kepada kami’. Adapun selain itu hanyalah waswas bisikan syaitan.[27]Sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam , “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allâh mudahkan baginya jalan ke surga.”Dalam hadits ini terdapat janji Allâh Azza wa Jalla bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i.“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna. Pertama, menempuh jalan dengan makna fisik, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama. Kedua, menempuh jalan metode yang bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar sungguh-sungguh, membaca, menela’ah kitab-kitab para ulama, menulis, dan berusaha untuk memahami apa-apa yang dipelajari.“Allâh akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna. Pertama, Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan masuk surga bagi orang yang menuntut ilmu dengan tujuan mencari wajah Allâh, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya. Kedua, Allâh akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari kiamat ketika melewati “shirâth” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam.[28]Ini seperti firman Allâh Azza wa Jalla , yang maknanya, “Dan sungguh, telah Kami mudahkan al-Qur-ân untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?” [al-Qamar/5417]Salah seorang ulama Salaf berkata, “Maksud ayat di atas, Adakah penuntut ilmu sehingga ia akan dibantu dalam mencarinya?” Bisa jadi yang dimaksud sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di atas ialah Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberi kemudahan kepada penuntut ilmu jika ia menuntutnya dengan niat mendapatkan wajah Allâh, mengambil manfaat darinya, dan mengamalkan konsekuensinya. Jadi, ilmu menjadi penyebab ia mendapatkan petunjuk dan masuk Allâh Azza wa Jalla memberi kemudahan kepada penuntut ilmu untuk menguasai ilmu-ilmu lain yang bermanfaat dan bisa mengantarkannya ke surga. Ada yang mengatakan, “Barangsiapa mengamalkan ilmunya, maka Allâh memberinya ilmu yang belum ia ketahui.” Ada juga yang mengatakan, “Pahala kebaikan ialah kebaikan sesudahnya.“Allâh Azza wa Jalla berfirman وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk…” [Maryam/1976]Diantara pengertian sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,”Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allâh mudahkan baginya jalan ke surga.” ialah Allâh Azza wa Jalla mempermudahnya melewati jalan jalan dalam makna hakikinya ke surga pada hari Kiamat, seperti melewati shirâth serta berbagai kesulitan sebelum dan sesudah sirâth. Itu semua dimudahkan bagi penuntut ilmu. Karena ilmu bisa membimbing seseorang mengenal Allâh Azza wa Jalla lewat jalur terdekat. Jadi, barangsiapa menempuh jalan ilmu dan tidak berpaling, ia akan bisa sampai kepada Allâh dan surga-Nya melalui jalur terdekat dan mudah. Karenanya, semua jalan ke surga di dunia dan akhirat menjadi mudah bagi penuntut ilmu. Tidak ada jalan untuk mengenal Allâh, mencapai keridhaan-Nya, sukses dengan mendapatkan kedekatan dengan-Nya di dunia dan akhirat kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang dibawa oleh para rasul-Nya dan diturunkan dalam kitab-Nya. Sehingga kitab itu menjadi panduan baginya yang bisa membimbingnya dalam gelapnya kebodohan, syubhat dan keraguan. Oleh karena itu Allâh Azza wa Jalla menamakan kitab-Nya dengan an-nûr cahaya.Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allâh dan kitab yang menjelaskan. Dengan kitab itulah Allâh memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allâh mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuk ke jalan yang lurus.” [al-Mâidah/515-16]Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengumpamakan para pengemban ilmu para Ulama seperti bintang-bintang di langit yang dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan. Jika bintang-bintang itu hilang dan sirna, maka alam semesta akan mengalami kehancuran. Jika ilmu syar’i tetap ada di tengah manusia, maka manusia senantiasa berada di atas petunjuk. Dan ilmu itu tetap ada selama para Ulama masih ada. Jika para Ulama dan orang-orang yang mengamalkannya sudah tidak ada lagi, maka manusia akan terjatuh dalam kesesatan. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya Allâh Ta’ala tidak mencabut ilmu dari para hamba sekaligus, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila sudah tidak ada lagi seorang yang alim, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”[29]Ubâdah Radhiyallahu anhu pernah memberitahukan bahwa ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah kekhusu’an. Ubadah bin ash-Shâmit Radhiyallahu anhu mengatakan seperti itu karena ilmu itu ada dua jenis Pertama, ilmu yang buahnya ada di hati manusia. Ilmu ini adalah ilmu tentang Allâh, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya yang menjadikan orang takut kepada Allâh, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, berdo’a kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, dan lain sebagainya. Itulah ilmu yang ilmu di lidah. Itulah hujjah Allâh bagimu atau atasmu. Jadi, ilmu yang pertama kali diangkat ialah ilmu batin yang menyatu dengan hati dan memperbaikinya. Sedang yang tersisa ialah ilmu di lidah manusia; para ulama atau selain mereka, menyia-nyiakannya dan tidak mengamalkannya. Kemudian ilmu hilang dengan kematian para ulama, akibatnya, al-Qur-ân hanya ada di mushhaf tanpa ada yang mengerti makna-maknanya, batasan-batasannya dan hukum-hukumnya. Hal tersebut berkembang terus hingga akhir zaman kemudian tidak ada yang tersisa di mushaf dan hati. Setelah itu, kiamat terjadi.[30]7. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , yang maknanya, “Tidaklah suatu kaum duduk di salah satu rumah Allâh masjid; mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”Ini menunjukkan duduk di masjid-masjid untuk membaca al-Qur-ân dan mempelajarinya disunnahkan. Jika pengertian hadits diatas dibawa ke makna mempelajari dan mengajarkan al-Qur’ân, maka semua Ulama’ sepakat bahwa itu disunnahkan. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُSebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’ân.[31]Abu Abdurrahman as-Sulami rahimahullah berkata, “Inilah yang membuatku duduk di tempat dudukku ini.” Beliau mengajarkan al-Qur’ân sejak zaman Utsman bin Affân hingga zaman al-Hajjâj bin Yûsuf.[32]Jika sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam ini dipahami dengan makna yang lebih umum maka ini mencakup berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari al-Qur’ân secara mutlak, karena terkadang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh seseorang membacakan al-Qur’ân agar beliau dapat mendengarkan bacaannya, sebagaimana beliau Shallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu agar membacakan al-Qur’ân untuk beliau Shallallahu alaihi wa sallam .Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu pernah menyuruh seseorang membacakan al-Qur’ân untuknya dan untuk rekan-rekannya. Mereka semua mendengarkannya. Terkadang Umar Radhiyallahu anhu menyuruh Abu Musa Radhiyallahu anhu dan terkadang menyuruh Uqbah bin Amir Radhiyallahu anhu .[33]Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa berkumpul untuk mempelajari al-Qur’ân itu disunnahkan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan berkumpul untuk berdzikir itu sunnah, sementara membaca dan mempelajari al-Qur’ân adalah dzikir dari Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam keluar ke salah satu halaqah Shahabat-Shahabat beliau kemudian bersabda, “Apa yang membuat kalian duduk?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dan memuji-Nya karena Dia telah memberi kami petunjuk kepada Islam dan menganugerahkan nikmat kepada kami.” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allâh, apakah kalian duduk karena itu semua ?” Mereka menjawab, “Demi Allâh, kami tidak duduk kecuali karena tujuan tersebut.” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,أَمَا إِنِّـيْ لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِـيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِـيْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِيْ بِكُمُ الْـمَلَائِكَةَSesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, karena Jibril telah datang kepadaku kemudian memberitahuku bahwa Allâh Azza wa Jalla membanggakan kalian kepada para malaikat.[34]Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak. Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mereka berdzikir masing-masing, tidak berjama’ah dan tidak juga dengan suara yang keras. Jadi, hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya tidak menunjukkan adanya dzikir berjama’ah. Karena dzikir jama’i tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para Shahabatnya g . Bahkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu menegur dengan keras orang yang berdzikir jama’i sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih.[35]Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pahala orang yang duduk di salah satu rumah Allâh masjid guna mempelajari al-Qur’ân ada empat [36]Ketenangan turun kepada mereka. Diriwayatkan dari al-Barâ’ bin Azib Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada seseorang membaca surat al-Kahfi dan di sampingnya terdapat kuda kemudian ia ditutupi awan. Awan itu berputar-putar dan mendekat hingga kuda orang itu lari dari awan tersebut. Keesokan harinya, orang tersebut menghadap Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda تِلْكَ السَّكِيْنَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِItulah ketenangan yang turun bagi al-Qur’ân.[37]Kejadian serupa juga dialami oleh Usaid bin Khudair Radhiyallahu anhu[38]Diliputi rahmat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “… Sesungguhnya rahmat Allâh dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” [al-A’râf/7 56]Para malaikat mengelilingi Azza wa Jalla menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman,أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِـيْ ، وَأَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكُرُنِـيْ ، إِنْ ذَكَرَنِـيْ فِيْ نَفْسِهِ ؛ ذَكَرْتُهُ فِـيْ نَفْسِيْ ، وَإِنْ ذَكَرَنِـيْ فِـيْ مَلَإٍ ؛ ذَكَرْتُهُ فِـيْ مَلَإٍ خَيْرٌ مِنْهُمْAku sesuai dugaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat dzikir kepada-Ku sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia ingat dzikir kepada-Ku di kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang lebih baik daripada mereka.[39]Bentuk ingatnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya ialah Allâh memujinya dihadapan para malaikat, Ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kalian kepada Allâh sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Allah itu Maha Penyayang terhadap kaum Mukminin” [al-Ahzâb/3341-43]Bentuk shalawat Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya ialah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyanjungnya dihadapan para malaikat-Nya dan memujinya dengan ingat kepadanya. Itulah yang dikatakan oleh Abul Aliyah dan disebutkan oleh imam Bukhâri dalam kitab Shahîhnya.[40] 8. Sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang artinya, “Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya dalam meraih derajat yang tinggi-red, maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya“Maksudnya, amal perbuatanlah yang bisa mengantarkan seseorang meraih derajat tinggi di akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat karena apa yang dikerjakannya.” [al-An’âm/6132]Jadi, barangsiapa amalnya lamban untuk mencapai tingkatan tinggi di sisi Allâh, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya untuk meraih derajat tersebut. Karena Allâh Azza wa Jalla menentukan pahala berdasarkan amalan dan bukan nasab. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” [al-Mukminûn/23101]Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin bergegas meraih ampunan dan rahmat Allâh dengan amalannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allâh mencintai orang yang berbuat kebaikan.” [Ali Imrân/3133-134]Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ketika ayat ke-214 surat Asy-Syu’ara diturunkan, Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا بَنِيْ عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُوْلِ اللهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍr سَلِيْنِى مَاشِئْتِ مِنْ مَالِيْ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًاHai kaum Quraisy, belilah diri-diri kalian, sebab aku tidak bisa memberi manfaat sedikit pun kepada kalian di hadapan Allâh. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak bisa memberi manfaat sedikit pun kepada kalian di hadapan Allâh. Wahai Abbâs bin Abdul Muththalib, aku tidak dapat memberimu manfaat apa pun di hadapan Allâh. Wahai Shafiyyah bibi Rasûlullâh, aku tidak dapat memberimu manfaat apa pun di hadapan Allâh. Wahai Fathimah anak Muhammad, mintalah hartaku sesukamu, aku tidak dapat memberimu manfaat apa pun bagimu di hadapan Allâh.[41]Itu semua diperkuat oleh sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam,إِنَّ آلَ أَبِيْ فُلَانٍ لَيْسُوْا بِأَوْلِيَائِيْ ، إِنَّمَـا وَلِـيِّيَ اللهُ وَصَالِحُ keluarga ayahku bukan waliku-waliku. Wali-waliku ialah Allâh dan orang-orang Mukmin yang shalih.[42]Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan kewalian kedekatan tidak bisa didapatkan dengan nasab, namun diperoleh dengan iman dan amal shalih. Jadi, barangsiapa iman dan amal shalihnya paling sempurna, maka kewaliannya dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sangat agung kendati secara nasab kekeluargaan jauh. Salah seorang penyair berkata,لَعَمْرُكَ مَـــــا الإِنْسَانُ إِلَّا بِدِيْـنِهِ فَلَا تَتْرُكِ التَّقْوَى اِتِّكَالًا عَلَى النَّسَبْ لَقَدْ رَفَعَ الْإِسْلَامُ سَلْمَـانَ فَارِسٍ وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ الشَّقِيَّ أَبَا لَـهَبْAku bersumpah kepadamu bahwa manusia itu sejatinya dengan agamnya. Jangan kautinggalkan takwa karena bersandar pada Islam telah meninggikan Salman al-Farisi dan syirik merendahkan si celaka Abu Lahab.[43]FAWAA-ID HADITSKeutamaan membantu kebutuhan dan kesulitan kaum dan melapangkan kesusahan seorang Muslim merupakan cara mendekatkan diri kepada Allâh dan cara meraih akan adanya hari hari Kiamat ada kesulitan yang sangat memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan utang.Balasan itu sesuai dengan jenis untuk menutup aib seorang sesama Muslim dalam kebaikan adalah sebab yang mengundang pertolongan AllâhWajib menuntut ilmu syar’ berjalan atau safar untuk menuntut ilmu syar’ Ilmu syar’i adalah jalan menuju yang paling utama adalah mempelajari Kitâbullâh al-Qur’ân dengan membaca, memahami dan mengamalkannya, kemudian mempelajari sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam . Keduanya wajib dipahami menurut pemahaman Salafush al-Qur’ân dan mempelajarinya akan mendatangkan ketenangan, rahmat, dikelilingi malaikat dan disebut-sebut oleh Allâh di hadapan paar adanya berkumpul di rumah Allâh masjid untuk mempelajari abadi diraih dengan amal shalih, bukan dengan nasab atau garis di sisi Allâh bisa digapai dengan takwa dan amal shalih, bukan dengan nasab dan Karim dan Imam Abu Ibni Ibni Hibban at-Ta’liiqaatul Hisaan.Hilyatul Auliyaa’, karya Abu Nu’aim Bayaanil Ilmi wa Ilmi Salaf alal Baari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al- al-Ahaadiits ash-Shahiihah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin wa Fawaa-id minal Arba’iin an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Arba’iin an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al- Uluum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Ahwadzi, karya ’Abdurrahman bin ’Abdurrahim ’Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-’ Ilmu Jalan Menuju Surga, karya Yazid bin ’Abdul Qadir al-Fataawaa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1430H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Lihat Fathul Bâri 5/97, Kitâbul Mazhâlim. [2] Shahih HR. Bukhâri no. 2442 dan 6951, Muslim no. 2580 dan Ahmad 2/91, Abu Dâwud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426, dan Ibnu Hibbân no. 533 dari Shahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma . [3] Shahih HR. Bukhâri no. 1284, Muslim no. 923, Abu Dâwud no. 3125, dan lainnya dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu . [4] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam II/286. [5] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/287, dengan ringkas. [6] Ada yang menafsirkan penglihatan Allâh meliputi mereka, ada juga yang mengatakan penglihatan meliputi mereka karena di tanah lapang yang datar semua dapat terlihat. Adapun penglihatan Allah sudah pasti meliputi mereka dalam semua keadaan di dunia maupun di akhirat, di tanah lapang maupun tempat lainnya. Wallaahu A’lam. [Lihat Fat-hul Baari, VIII/396]. [7] Shahih HR. Bukhâri no. 3340, 3361, dan 4712, Muslim no. 194, Ahmad 2/435-436, dan lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. [8] Shahih HR. Bukhâri no. 6527, Muslim no. 2859, dan an-Nasa-i 4/114-115. [9] Shahih HR. Bukhâri no. 6531 dan Muslim no. 2862. [10] Shahih HR. al-Bukhâri no. 6532 dan Muslim no. 2863. [11] Shahih HR. Muslim no. 2864, Ahmad 6/3, dan at-Tirmidzi no. 2421 dari al-Miqdad bin al-Aswad Radhiyallahu anhu . Lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat, Tuhfatul Ahwâdzi 7/104-106, no. 2536 dan Silsilah al-Ahâdîtsish Shahîhah no. 1382. [12] Shahih HR. al-Bukhâri no. 2078, 3480, Muslim no. 1562, an-Nasâi 7/318, dan Ibnu Hibbân no. 5041, 5042 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [13] Shahih HR. Muslim no. 1563. [14] Shahih HR. Muslim no. 3006. [15] Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/291. [16] Shahih HR. Abu Dâwud no. 4880 dan Ahmad 4/420-421, 424. [17] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 2314 dan Muslim no. 1697 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu [18] Hilyatul Auliyâ 1/84, no. 113. [19] Hilyatul Auliyâ 3/326, no. 4131. [20] Shahih HR. al-Bukhâri no. 2890, Muslim no. 1119, an-Nasâ-i 4/182, dan Ibnu Hibbân no. 3551-at-Ta’lâqâtul Hisân. Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam II/293-296 dengan diringkas dan sedikit tambahan. [21] Lihat Kitâbul Ilmi hlm. 13, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, cet. Daar Tsurayya lin Nasyr, th. 1420 H. [22] Shahih Diriwayatkan oleh Ahmad IV/92, 95, 96, al-Bukhâri no. 71, 3116, 7312, dan Muslim no. 1037, lafazh ini milik al-Bukhâri dari Shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma. Diriwayatkan juga oleh Ahmad I/306 dari Ibnu Abbas c dan II/234 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [23] Majmû’ al-Fatâwâ 6/388, 13/136 dan Madârijus Sâlikîn 2/488. [24] Fadhlu Ilmi Salaf alal Khalaf hlm. 47, tahqiq Syaikh Ali Hasan al-Halaby. [25] Fadhlu Ilmi Salaf alal Khalaf hlm. 41, tahqiq Syaikh Ali Hasan al-Halaby. [26] Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Fadhlih I/769, no. 1421 dan Fadhlu Ilmi Salaf alal Khalaf hlm. 42. [27] Dîwân Imam asy-Syafi’i hlm. 388, no. 206, dikumpulkan dan disyarah oleh Muhammad Abdurrahim, cet. Daarul Fikr, th. 1415 H. [28] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/297 dan Qawâ’id wa Fawâ-id minal Arba’iin hlm. 316-317. [29] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 100 dan Muslim no. 2673. Ini lafazh Bukhâri, dari Shahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhuma. [30] Diringkas dari Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/296-300. [31] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 5027, 5028, Ahmad I/58, Abu Dawud no. 1452, at-Tirmidzi no. 2907, Ibnu Mâjah no. 212, dan Ibnu Hibbân no. 118-at-Ta’lîqâtul Hisân dari Shahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu . [32] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/300. [33] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/301. [34] Shahih HR. Muslim no. 2701, Ahmad IV/92, at-Tirmidzi no. 3379, an-Nasa-i VIII/249, dan Ibnu Hibban no. 810-at-Ta’lîqâtul Hisân. [35] Shahih HR. Ad-Darimi I/68-69. Lihat Silsilatul Ahâdîtsis Shahîhah 5/11-12, no. 2005. Untuk lebih detailnya, silahkan lihat buku penulis Mulia dengan Manhaj Salaf hlm. 133-134, cet. Ke-3 th. 2009. [36] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/304-307 dengan diringkas. [37] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 3614 dan Muslim no. 795. [38] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 5018 secara mu’allaq dan Muslim no. 796. [39] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 7405, Muslim no. 2675, Ahmad II/251, at-Tirmidzi no. 3603, Ibnu Mâjah no. 3822, dan Ibnu Hibbân no. 808, 809-at-Ta’lîqâtul Hisân. [40] Lihat Fathul Bâri 8/532 dan Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/300-307 [41] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 2753, 4771 dan Muslim no. 206, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [42] Shahih HR. Al-Bukhâri no. 5990 dan Muslim no. 215 dari Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhu . [43] Jâmi’ul Ulûm wal Hikam 2/308-310. Home /A8. Qur'an Hadits5 Syarah.../Membantu Kesulitan Sesama Muslim...Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. (HR. Muslim) 3. Muhasabah dan introspeksi. Jamaah Jumat hafidhakumullah, Datangnya musibah di awal 2021 dan belum berakhirnya pandemi corona ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita. Muhasabah. Sebab pada umumnya musibah datang kepada kaum muslimin
وَ اللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ WALLAHU FII AWNIL ABDI “Allah senantiasa menolong hamba مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ MAA KAANAL ABDU FII AWNI AKHIIHI selama ia menolong saudaranya.” artinya “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” Muslim Poster Serial Hadits Pendek Pertolongan dari Allah Video Serial Hadits Pendek Pertolongan dari Allah KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28
Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR.Rajin menolong, ringan tangan, yuk kaji hadits Arbain berikut ini. Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah 36 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَاللهُ في عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الجَنَّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِهَذَا اللَّفْظِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan utang, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya sebagaimana ia menolong saudaraya. Barangsiapa yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah berkumpul sekelompok orang di salah satu rumah Allah masjid untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah menyanjung namanya kepada Malaikat yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak akan bisa dikejar oleh nasabnya garis keturunannya yang mulia.” HR. Muslim dengan lafal ini [HR. Muslim, no. 2699] Keterangan hadits – man naffasa siapa yang melapangkan – kurbah kesusahan, kesempitan – yassara memudahkan – ala mu’sir pada yang memiliki kesulitan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan jika orang yang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan sebagian atau semua utang itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” QS. Al-Baqarah 280 – wa man sataro musliman menutup aib seorang muslim, yaitu menutup aib berkaitan dengan muruah kesopanan, aib dalam agama dan amal. – yassarallahu alaihi fid dunyaa wal aakhirah maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Ini mencakup kemudahan dalam hal harta, kemudahan dalam beramal, kemudahan dalam pengajaran, dan lainnya. Kemudahan yang jadi balasan adalah kemudahan dalam hal apa pun.” Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 385 – wallahu fii aunil abdi maa kaanal abdu fii auni akhihii Siapa saja yang menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya sebagaimana ia menolong saudaranya sebelumnya. Hadits ini tidaklah diterjemahkan, “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya”. Kata selamanya di sini tidak tepat–menurut Syaikh Ibnu Utsaimin–. Pengertian itu berarti Allah tidak menolong hamba ketika ia tidak menolong saudaranya. Dengan kata lain akan dipahami, pertolongan Allah itu tergantung pada menolong saudaranya. Dengan terjemahan yang salah seperti ini, nanti akan dipahami bahwa pertolongan Allah itu sama dengan pertolongan seseorang pada saudaranya. – wa man salaka thariqan ia memasuki ilmu dan berjalan di dalamnya. – yaltamisu fiihi ilman mencari ilmu. Yang dimaksud mencari ilmu di sini adalah ilmu syari. Adapun ilmu dunia seperti ilmu teknik, tidaklah masuk dalam hadits ini. – sahhalallahu lahu thariqan ilal jannnah ia akan dimudahkan oleh Allah pada jalan menuju surga. Allah memberinya hidayah taufik pada jalan menuju surga. – buyutillah masjid, sebagaimana firman Allah Ta’ala, فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ , رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah, dan dari mendirikan sembahyang, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang.” QS. An-Nuur 36-37 – yatluuna kitaaballah membaca kitabullah, yakni membacanya secara lafaz dan makna, termasuk juga mempelajari makna Al-Qur’an. – wa yatadaarosuuna lahu baynahum belajar Al-Qur’an antara satu dan lainnya. Mereka yang berkumpul di masjid dan saling mempelajari Al-Qur’an, maka akan mendapatkan Mendapatkan sakinah, yaitu ketenangan hati dan lapangnya dada. Mendapatkan rahmat dari Allah. Dikelilingi malaikat. Allah menyebut mereka di sisi malaikat yang lebih mulia. – wa man batthoa bihi amaluh, lam yusri’ bihi nasabuh siapa yang menunda amalan, malas beramal, maka garis keturunannya tidaklah manfaat. Karena yang paling mulia adalah yang paling bertakwa sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” QS. Al-Hujurat 13 Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim, no. 2699 Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah saling mengingatkan, muthala’ah mengkaji, menulis atau berusaha memahami ilmu. Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, 2297 Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Semakin Sulit, Semakin Besar Pahala Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi rahimahullah dalam Al-Asybah wa An-Nazhair hlm. 320 disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” HR. Muslim, no. 1211. Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair hlm. 320. Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Semakin kita menemui kesulitan dalam mempelajari agama, pahalanya semakin besar. Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali. Pertama Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang kepada surga. Ketiga Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan kepada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan kepada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” QS. Maryam 76 Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” QS. Muhammad 17 Keempat Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath titian yang terbentang di atas neraka menuju surga, pen.. Sampai-sampai Ibnu Rajab menyimpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, 2297-298 Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan kepada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan diantarkan kepada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dan sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat pemikiran sesat dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ,يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” QS. Al-Maidah 15-16 Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, 2297-298 Faedah hadits Keutamaan tiga hal naffasa, yassara, sataro melapangkan, memudahkan, menutup aib. Hari kiamat terdapat kesulitan yang luar biasa. Menutup aib seorang muslim itu dirinci – Bisa jadi menutupinya itu baik jika yang ditutupi adalah aib dari seseorang yang agamanya baik. Ia melakukan kesalahan lantas menyesalinya, maka menutupi aibnya itu terpuji dan baik. – Bisa jadi menutupinya itu jelek jika yang ditutupi adalah aib dari orang yang gemar bermaksiat atau ia berbuat zalim pada yang lain dan akan terus membuatnya semakin rusak. Menutupi aib dalam kondisi seperti ini tercela. Aibnya bisa saja diungkap dan diberitahukan pada orang yang bisa mendidiknya. Misalnya, yang punya aib adalah seorang istri, berarti dilaporkan pada suaminya. Misal lainnya, yang punya aib adalah seorang anak, berarti dilaporkan pada bapaknya. Atau contoh lainnya, yang melakukan aib adalah seorang gurum ia dilaporkan pada kepala sekolah. – Bisa jadi menutupinya tidak diketahui baik ataukah jelek, kondisi seperti ini menutupinya lebih baik. Kaedah yang berlaku dalam hal ini adalah hadits Aisyah, فَإِنَّ الإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعُقُوبَةِ. “Jika imam itu salah dalam memberikan maaf, itu lebih baik, daripada ia salah dalam memberikan hukuman.” HR. Tirmidzi, no. 1424 dan Al-Baihaqi, 8238. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini dhaif. Namun, makna hadits ini benar adanya sehingga dipakai sebagai kaedah oleh Syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hlm. 390-391. Menolong orang lain adalah jalan mendapatkan pertolongan Allah. Namun, kalau menolong dalam dosa, berarti dihukumi haram. Keutamaan menuntut ilmu syari, menuntut ilmu adalah jalan mudah menuju surga. Hendaklah bersegera dalam mencari ilmu dengan kesungguhan dan kerja keras karena semua orang ingin masuk surga dengan cara yang paling ringkas. Kalau menuntut ilmu adalah jalan ringkas menuju surga, kita harus sungguh-sungguh menempuhnya. Keutamaan majelis dzikir majelis ilmu yang berada di rumah Allah masjid dan keutamaan saling mengkaji Al-Qur’an yaitu mendapatkan ketenangan, dinaungi rahmat, dikelilingi malaikat, dan disanjung oleh Allah di hadapan makhluk-Nya yang lebih mulia. Membaca Al-Qur’an dengan berkumpul itu ada tiga bentuk – Membaca bersama-sama dengan satu suara, kalau dalam rangka pengajaran, tidaklah masalah. Seperti pengajar membaca ayat, lalu murid-muridnya mengikuti dan membaca bersama-sama. – Membaca Al-Qur’an dengan cara yang satu membaca dan yang lainnya diam, kemudian saling bergiliran untuk membaca, seperti ini tidaklah masalah. – Membaca Al-Qur’an dengan cara masing-masing membaca untuk dirinya, yang lain tidak menyimak atau memerhatikan, seperti ini yang kita lihat di masjid-masjid. Sebaik-baik tempat adalah masjid. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” HR. Muslim, no. 671, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Nasab tidaklah bermanfaat di akhirat. Karena kita dinilai dengan amalan, bukan dengan nasab. Janganlah seseorang tertipu dengan nasabnya yang mulia. Keutamaan bersaudara dalam Islam. Kaedah dari hadits Al-jazaa’ min jinsil amal, balasan tergantung amal perbuatan. At-tafaadhul bil a’maal laa bil ansaab wal ahsaab, keutamaan seseorang dilihat dari amal, bukan dari nasab dan kedudukan. Baca pembahasan selanjutnya Hadits Arbain 37 Berniat Baik dan Jelek, Namun Tidak Terlaksana Referensi Jaami’Al-Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh Abdullah Al-Farih. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Darush Sholihin, saat menjelang Ashar, 17 April 2020 23 Syakban 1441 H Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
dukadan kesulitan hidup di dunia, maka Allah akan melapangkannya dari kesulitan duka dan kesulitan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan urusan seseorang, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya tersebut menolong saudaranya". (HR. Muslim, Abu
Bantulah Orang Lain, Allah Akan Membantu Anda!Begitu kira-kira kandungan hadits shahih berikut ini, yang berisi konsep tolong-menolong ta'awun dalam Islam."Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan kesusahan dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan kesedihan dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan membantu kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya" HR. Muslim.Membantu orang lain, dengan demikian, hakikatnya adalah membantu diri sendiri, yaitu mengundang datangnya bantuan/pertolongan Allah Saw menegaskan, orang yang membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan, maka akan mendapatkan bantuan Allah di hari akhirat yang membantu orang yang kesusahan, akan dibantu Allah dalam mengatasi urusannya di dunia dan di pun akan menutup aib keburukan seseorang yang menutup aib orang di atas ditutup dengan penegasanاللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ "Allah SWT akan membantu hamba-Nya selama si hamba suka membantu orang lain."Menurut Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin, Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong saudaranya dari kaum Muslimin di dalam segala yang perkara yang mereka butuh dalam Islam harus dalam perbuatan baik dan ketakwaaan. Dilarang saling tolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” QS. Al-Maidah 5 2Demikian prinsip tolong-menolong dalam Islam. Wallahu a'lam.
ጽጥуኇαክасወ ж моլаψаրቂ
ሟакեчуςад ժоξαքαգош ቢցαբሐζ
ኑδጅжаք իфըклኜцоቯα
Ξашоւամуኧ реሚοлሯ
Ηիտэզևклαз еዑаና
Еδοноло ջиνивէኝωцጾ
Ղ бовዟ
Эвεхрሚሑ дивሓ е
በջ ዣυምω
ቬաበεηεቷոλ иփяслιпсаհ ег
Οзвэվաչаվе ጉռуշоло
Ωпоլоድ уψиհωժ
Kepeduliansosial merupakan sebuah sikap keterhubungan dengan manusia pada umumnya, sebuah empati bagi setiap anggota manusia untuk membantu orang lain atau sesama. [1] Dengan seorang muslim berqurban di hari raya Idul Adha menjadi salah satu kontribusi kepedulian dalam menegakkan agama dan kasih sayang sebagaimana yang telah dicontohkan
Connection timed out Error code 522 2023-06-13 133135 UTC Host Error What happened? The initial connection between Cloudflare's network and the origin web server timed out. As a result, the web page can not be displayed. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not completing requests. An Error 522 means that the request was able to connect to your web server, but that the request didn't finish. The most likely cause is that something on your server is hogging resources. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d6ab1134d761cca • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya." (HR. Muslim no. 2699) - Rezeki dan Umur Panjang. Memberi perhatian kepada sesama merupakan satu usaha agar silaturahmi tetap terjaga. Seorang muslim dianjurkan untuk menjalin silaturahmi dan Allah akan melapangkan rezeki serta memperpanjang umur orang tersebut.
loading...Membaca Al-Quran dan menghapal hadis diwajibkan bagi umat Islam, karena keduanya adalah tuntutan dalam kehidupan. Foto istimewa One day one hadis , bisa menjadi program buat diri kita dalam upaya menghapal hadis. Sebab, menghapal hadis salah satu kewajiban umat Islam. Berikut salah satu hadis yang dapat dihapal yakni tentang 'Suka Menolong'. Kenapa hadis ini perlu dipelajari? Karena, Allah Ta'ala akan senantiasa menolong hamba-Nya selama Ia menolong saudaranya. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” HR. Bukhari dan Muslim. Baca Juga Dari hadis itu bisa diambil pelajaran, antara lain 1. Menolong adalah amalan yang mulia Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadis Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” HR. Muslim .2. Dicintai Allah Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” HR. Thabrani. Luar biasa amalan suka menolong. Pahala orang yang suka membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka adalah lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya. Baca Juga 3. Amalan para ulamaAl Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang Anjuran rajin untuk membuat orang lain bahagia dan bantulah kesusahan mereka.
Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: , 2945, Abu Dawud: 4946, Ibnu Majah: 225 dan Ahmad: II/ 252, 296, 500, 514. “Bahwa Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim 2699, at-Turmudziy 1930, 1425, 2945, Abu Dawud 4946, Ibnu Majah 225 dan Ahmad II/ 252, 296, 500, 514. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih] Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba tersebut”. Berkata asy-Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bahwa Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong saudaranya dari kaum muslimin di dalam segala yang perkara yang mereka butuh pertolongan. Sehingga dalam perkara mendahulukan kedua sandal bagi saudaranya tersebut, mempersilahkannya untuk naik kendaraan dan mendekatkan permadaninya untuknya dan selainnya. Namun motivasi menolong saudaramu yang muslim itu terikat dengan perbuatan baik dan ketakwaaan. Hal ini karena firman Allah ta’ala Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa. QS al-Maidah/ 5 2. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan al-Turmudzi dengan redaksi yang sama. Jika ingin mendapat pertolongan Allah, maka mesti senantiasa menolong sesama manusia. Allah SWT senantiasa menolong orang yang selalu memberikan pertolongan. Dalam hadits riwayat al-Hakim diterangkan bahwa Rasul SAW pernah ditanya tentang amal yang utama. Di antara amal yang paling utama adalah 1 menolong sesama, 2 membahagiakan orang yang bersedih, dan 3 mengantar teman yang sedang kebingungan mencari jalan. Bahkan beliau menandaskan "Seseorang yang pergi dengan temannya untuk membantu mengatasi masalah atau suatu keperluan, itu lebih utama dibanding dengan I’tikaf di Masjid ku ini sambil berisyarat dengan jari ke Masjid Nabawi, selama dua bulan." HR. al-Hakim
Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. Kantor, 10 Oktober 2017
Sobat Phi, dalam sebuah Hadist “Allah senantiasa menolong hambanya, Selama hambanya menolong saudaranya” HR Muslim.Di Jumat berkah kali ini mari kita sama – sama tolong menolong dan meneladani Hadist berikut. “Allah senantiasa menolong hambanya, Selama hambanya menolong saudaranya” Jangan lupa untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang kesusahan ya SobatPhi, karena Allah senantiasa menolong hambanya, Selama hambanya menolong saudaranya. Jangan lupa untuk saling tolong menolong SobatPhi, dimanapun kita berada, dan jangan lupa berbagi kebaikan ya di hari Jumat ini agar hari nya tambah berkah. SobatPhi, terus streaming di Gaya – juara.
Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699) 01 Aug 2022Allah Menolong Hamba-Nya Selama Hamba-Nya Membantu Saudaranya 17 October 2012, 10 bayi Gaza yang belum mampu meminta kita menolongnya. foto Palestine Chronicle JAKARTA, Rabu Hari ini situs kajian Islam menerbitkan tulisan ulama bernama Abu Abdillah Hassan As-Somali yang mengutip seorang ulama masyhur dalam sejarah Islam, Ibnu Qudamah meninggal 689 H, rahimahullah Ta’ala. Beberapa catatan terkait hak setiap saudaramu atasmu Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam bersabda “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu Abu abdillah As-Somali menulis, tingkatan termudah dari memenuhi hak saudaramu adalah membantunya dengan suka cita ketika ia meminta pertolonganmu dan kamu sanggup melakukannya. Adapun tingkatan di atasnya, yakni membantu saudaramu tanpa diminta. Tingkatan yang paling atas adalah mendahulukan kebetuhan saudaramu di atas kebutuhanmu sendiri. Allah Ta’ala merekam bagaimana kaum Anshar di Madinah mencapai tingkatan tertinggi itu “Juga penduduk Madinah yang ikhlas beriman sebelum datangnya Muhajirin. Mereka cinta kepada orang yang hijrah ke kota mereka. Tak ada pamrih dalam hatinya dari yang mereka berikan. Mereka lebih mengutamakan Muhajirin dari dirinya sekalipun mereka juga membutuhkannya.” Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 9 Ibnu Abbas radhiyallahu anhu juga telah mengingatkan agar tidak menunggu seseorang meminta bantuan kita karena itu akan mempermalukan dirinya. Ibnu Qudamah rahimahullah Ta’ala mengatakan Beberapa Sahabat dan orang-orang sesudahnya mengurus keluarga saudaranya sesama Muslim yang sudah meninggal, bahkan sampai 40 tahun! Barangsiapa meringankan beban seorang mukmin dari suatu kecemasan ke kecemasan lain semasa hidupnya, Allah akan membebaskannya dari suatu kecemasan kekecemasan lainnya di Hari Kiamat. Barangsiapa membuat hal-hal mudah untuk Mus’ir orang yang berada dalam kesulitan keuangan dan tidak mampu membayar utangnya, Allah akan membuat hal-hal mudah baginya dalam kehidupan ini dan kehidupan berikutnya. Allah membantu hamba-Nya selama hamba-Nya membantu saudaranya.* Sahabat Al-Aqsha INFAQ TERBAIK ANDA DONASI Sampaikan Infaq terbaik anda melalui rekening Donasi Palestina Bank Syariah Mandiri No. Rek 7799800009 an. Sahabat Al Aqsha Yayasan Donasi Suriah Bank Syariah Mandiri No. Rek 7799880002 an. Sahabat Al Aqsha Yayasan Untuk konfirmasi donasi anda, silakan klik di sini. atau SMS ke +62 877 00998 009 atau +62 877 00998 002 Seorang pria Suriah menangisi kematian remaja kecil di pangkuannya. foto Time Global Spin Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter sahabatalaqsha Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di ini berada dalam kategori Kabar Al-Aqsha & Palestina
.